Terseret Kasus Dugaan TPPO, PPNP Pastikan Proses Belajar Mengajar tak Terganggu

LIMAPULUH KOTA, Nuansapolitik.com

Direktur Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP), Ir Jhon Nefri memastikan proses belajar mengajar di kampusnya tak terganggu, pasca ditangkapnya beberapa oknum kampus terkait dugaan kasus Tindak Pidana Perdagaan Orang (TPPO).

Bacaan Lainnya

“PPNP menjamin bahwa Proses Belajar dan Mengajar (PBM) dan aktifitas perkantoran tidak terganggu dan berjalan normal seperti biasa,” katanya didampingi humas PPNP Khazanatul Israr saat menggelar jumpa pers, di Gedung pertemuan PPNP, Senin (3/6/2023).

Ia menyebut, secara institusi PPNP prihatin atas kejadian dugaan TPPO tersebut, yang menimbulkan keresahan, kerugian serta pertanyaan dari berbagai pihak. Untuk itu, pihak PPNP kedepannya berkomitmen melakukan hal-hal yang dapat mendukung perbaikan program dan kegiatan.

Disinggung soal adanya pihak kampus yang diamankan terkait dugaan TPPO yang melibatkan mahasiswa maggang ke Jepang, Jhon Nefri mengatakan pihaknya menghormati dan mendukung proses hukum yang sedang berjalan.

Dikatakannya, kasus tersebut terjadi pada tahun 2019/2020 yang lalu, dimana PPNP memiliki program kegiatan magang mahasiswa atau Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM). Saat itu, penentuan lokasi PKPM berdasarkan minat dari masing-masing mahasiswa, salah satu pilihannya adalah PKPM di Jepang.

Proses seleksi PKPM ke Jepang dimulai dari tingkat Program Studi dan dilanjutkan di tingkat Institusi/Politeknik. Informasi tentang lokasi dan pelaksanaan PKPM di Jepang ini sudah disampaikan secara terbuka dan jelas kepada mahasiswa yang berminat.

“Untuk pelaksanaannya menyesuaikan dengan manajemen masing-masing perusahaan,” katanya

Mekanismenya, mulai dari pembekalan PKPM seperti pengenalan budaya Jepang, sistem/etos kerja di perusahaan, dan pembuatan Tugas Akhir, kursus bahasa Jepang, kegiatan supervisi, dan setelah selesai PKPM dilaksanakan kegiatan pembimbingan konsultasi dan Ujian Komprehensif Tugas Akhir.

“Kegiatan PKPM ke Jepang ini sudah dihentikan pada tahun 2020 yang lalu sampai sekarang,” sebutnya. (rdo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *